Cari Blog Ini

Jumat, 27 September 2013

MUSANG/LUWAK

Musang Lovers komunitas musang pertama di dunia yang peduli terhadap ekosistem alam mengubah stigma negative masyarakat menjadi hewan yang lucu dan menggemaskan sebagai hewan peliharaan seperti pada umumnya kucing maupun anjing.Musang di Indonesia lambat laun akan punah karna maraknya penembakan/perburuan musang yang diluar batas dan menjadikanya sebagai hewan konsumsi walaupun di agama islam termasuk hewan yang haram untuk dinkonsumsi.Musang lovers memiliki andil dalam mensosialisasikan kepada halayak umum bahwa mereka dapat kita pelihara sebagai pets yang lucu bahkan musang termasuk hewan yang setia tehadap owner.Musang dimata saya pribadi memiliki peranan yang sangat penting dalam berbagai segi mulai dari kebiasaan mereka,musang yang telah kita rumahkan menjadi sangat spesial karena kita harus mengerti/paham karakter musang tersubut,merubah kebiasaan mereka di alam liar karna memang mereka hewan yang tabiat-nya liar dan bagi beberapa orang terkadang bingung melihat hewan buas satu ini dapat hidup berdampingan.Karna kita hidup berdampingan dan BELAJAR DARI KEARIFAN ALAM.#salamlestari








Musang luwak adalah hewan menyusu (mamalia) yang termasuk suku musang dan garangan (Viverridae). Nama ilmiahnya adalah Paradoxurus hermaphroditus dan di Malaysia dikenal sebagai musang pulutHewan ini juga dipanggil dengan berbagai sebutan lain seperti musang (nama umum, Betawi), careuh bulan (Sunda), luak atau luwak (Jawa), serta common palm civetcommon musanghouse musang atau toddy cat dalambahasa Inggris.

PEMERIAN
Musang bertubuh sedang, dengan panjang total sekitar 90 cm (termasuk ekor, sekitar 40 cm atau kurang). Abu-abu kecoklatan dengan ekor hitam-coklat mulus.
Sisi atas tubuh abu-abu kecoklatan, dengan variasi dari warna tengguli (coklat merah tua) sampai kehijauan. Jalur di punggung lebih gelap, biasanya berupa tiga atau lima garis gelap yang tidak begitu jelas dan terputus-putus, atau membentuk deretan bintik-bintik besar. Sisi samping dan bagian perut lebih pucat. Terdapat beberapa bintik samar di sebelah tubuhnya.
Wajah, kaki dan ekor coklat gelap sampai hitam. Dahi dan sisi samping wajah hingga di bawah telinga berwarna keputih-putihan, seperti beruban. Satu garis hitam samar-samar lewat di tengah dahi, dari arah hidung ke atas kepala.Hewan betina memiliki tiga pasang puting susu.

KEBIASAAN
Musang luwak adalah salah satu jenis mamalia liar yang kerap ditemui di sekitar pemukiman dan bahkan perkotaan. Hewan ini amat pandai memanjat dan bersifat arboreal, lebih kerap berkeliaran di atas pepohonan, meskipun tidak segan pula untuk turun ke tanah. Musang juga bersifatnokturnal, aktif di malam hari untuk mencari makanan dan lain-lain aktivitas hidupnya.
Dalam gelap malam tidak jarang musang luwak terlihat berjalan di atas atap rumah, meniti kabel listrik untuk berpindah dari satu bangunan ke lain bangunan, atau bahkan juga turun ke tanah di dekat dapur rumah. Musang luwak juga menyukai hutan-hutan sekunder.
Musang ini kerap dituduh sebagai pencuri ayam, walaupun tampaknya lebih sering memakan aneka buah-buahan di kebun dan pekarangan. Termasuk di antaranya pepayapisang, dan buah pohon kayu afrika (Maesopsis eminii). Mangsa yang lain adalah aneka seranggamoluskacacing tanahkadalserta bermacam-macam hewan kecil lain yang bisa ditangkapnya, termasuk mamalia kecil seperti tikus.
Di tempat-tempat yang biasa dilaluinya, di atas batu atau tanah yang keras, seringkali didapati tumpukan kotoran musang dengan aneka biji-bijianyang tidak tercerna di dalamnya. Agaknya pencernaan musang ini begitu singkat dan sederhana, sehingga biji-biji itu keluar lagi dengan utuh. Karena itu pulalah, konon musang luwak memilih buah yang betul-betul masak untuk menjadi santapannya. Maka terkenal istilah kopi luwak dari Jawa, yang menurut cerita dari mulut ke mulut diperoleh dari biji kopi hasil pilihan musang luwak, dan telah mengalami ‘proses’ melalui pencernaannya!
Musang luwak, menurut lukisan dalam buku William Marsden (1811), The History of Sumatra.
Akan tetapi sesungguhnya ada implikasi ekologis yang penting dari kebiasaan musang tersebut. Jenis-jenis musang lalu dikenal sebagai pemencar biji yang baik dan sangat penting peranannya dalam ekosistem hutan.
Pada siang hari musang luwak tidur di lubang-lubang kayu, atau jika di perkotaan, di ruang-ruang gelap di bawah atap. Hewan ini melahirkan 2-4 anak, yang diasuh induk betina hingga mampu mencari makanan sendiri.
Sebagaimana aneka kerabatnya dari Viverridae, musang luwak mengeluarkan semacam bau dari kelenjar di dekat anusnya. Samar-samar bau ini menyerupai harum daun pandan, namun dapat pula menjadi pekat dan memualkan. Kemungkinan bau ini digunakan untuk menandai batas-batasteritorinya, dan pada pihak lain untuk mengetahui kehadiran hewan sejenisnya di wilayah jelajahnya.
JENIS YANG BERKERABAT DAN PENYEBARAN
Ada empat spesies musang dari marga Paradoxurus, yalah:
  1. Paradoxurus hermaphroditus, musang luwak, yang menyebar luas mulai dari India dan bagian utara Pakistan di barat, Sri LankaBangladesh,BurmaAsia TenggaraTiongkok selatan, Semenanjung Malaya hingga ke Filipina. Di Indonesia didapati di SumatraKalimantanJawaNusa TenggaraSulawesi bagian selatan, sertaTaliabu dan Seram di Maluku.
  2. Paradoxurus zeylonensis, menyebar terbatas di Sri Lanka.
  3. Paradoxurus jerdoni, menyebar terbatas di negara bagian Kerala, India selatan.
     4.  Paradoxurus lignicolor, menyebar terbatas di Kepulauan Mentawai.

JENIS-JENIS YANG TERSEBAR DI INDONESIA

1. MUSANG RASE
Opsetan musang rase koleksi TN GGP
Musang bertubuh sedang, panjang kepala dan tubuh 540–630 mm, sedangkan ekornya 300–430 mm. Ekornya ini berbelang-belang dengan 6–9 cincin hitam dan putih, dengan ujung yang selalu berwarna putih. Kakinya relatif pendek, 85–100 mm dari ‘tumit’ hingga ujung jari. Berat tubuhnya antara 2–4 kg.
Tubuh bagian atas kelabu kecokelatan hingga cokelat pucat kekuningan, biasanya dengan beberapa garis hitam memanjang di punggungnya, dan di bawahnya, beberapa deret memanjang bintik-bintik hitam di sisi tubuhnya. Pada beberapa individu, pola garis-garis dan bintik-bintik itu mengabur. Pola garis-garis di leher bervariasi; pada umumnya dua garis hitam di masing-masing sisi leher, dari belakang telinga ke arah bahu, dan sering pula satu lagi melintang di tenggorokan. Kaki cokelat atau hitam.

Ekologi dan perilaku[sunting]

Anak musang rase dari Jawa bagian selatan
Rase tercatat menghuni hutan-hutan luruh daun dan hutan semi selalu-hijau, hutan luruh daun campuran, hutanbambuhutan belukarpadang rumput, serta wilayah riparian.
Tinggal dalam lubang-lubang di tanah, di bawah bebatuan, atau di semak-semak yang lebat, hewan ini aktif di malam hari (nokturnal, dan lebih banyak bergerak di atas tanah (terestrial). Sementara itu penulis yang lain, misalnya Hodgson dan juga Kellaart, menyebutkan bahwa rase biasa berkeliaran baik siang maupun malam hari. Musang rase memangsa aneka jenis binatang kecil, termasuk tikusburungularbuahakar-akaran, danbangkai hewan lain; juga aneka jenis serangga. Kadang-kadang karnivora ini mencuri ternak unggas untuk dimangsa.
Lukisan kelenjar dedes pada musang rase dan musang jebat india, menurut Pocock (1939)
Betina melahirkan empat atau lima anak sekali waktu. Musang rase diketahui hidup hingga umur delapan atau sembilan tahun.

Konservasi[sunting]

Musang rase acap diburu orang karena dianggap hama ternak. Musang ini juga diburu untuk diambil minyaknya yang harum, yang dinamai dedesjebat, atau kesturi.
Meskipun demikian, secara umum populasi hewan ini belum dianggap terancam, karena wilayah sebarannya yang luas, variasi habitatnya yang beragam, serta kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan pertanian dan pedesaan. IUCN memasukkannya ke dalam status LC (Least Concern )[1], sementara CITES menempatkannya dalam Apendiks III. Sementara itu, di Myanmar hewan ini dilindungi sepenuhnya berdasarkan Undang-undang Hidupan Liar 1994[7].

Catatan taksonomis[sunting]

Hewan ini dideskripsi pertama kali oleh Johann Friedrich Gmelin dalam revisi mahakarya Carolus LinnaeusSystema naturae per regna tria naturae di tahun 1788. Namun demikian, deskripsinya yang ringkas mengenai Viverra malaccensis dalam buku itu dianggap tidak jelas oleh sebagian penulis, misalnya Pocock yang kemudian memilih menggunakan nama Civetta indica Geoffroy Saint-Hilaire sebagai nama spesies ini. Pendapat Pocock ini belakangan banyak diikuti oleh penulis-penulis yang lain.
Banyak anak jenis yang kemudian dideskripsi berdasarkan variasi pada warna rambut, ukuran tubuh, tengkorak, dan ukuran gigi geligi. Dari sekitar 10 anak jenis yang pernah dideskripsi, tiga di antaranya menyebar di Indonesia yakni[13]:
  • V.m. atchinensis Sody, 1931 (lokasi tipe: Peureula, Aceh Timur)
  • V.m. muriavensis Sody, 1931 (utara G. Muria, Jawa Tengah)
  • V.m. baliensis Sody, 1931 (Bali)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar